19/11

Kami terhambat jarak dan terhalang perbedaan waktu. Komunikasi virtual juga tidak bisa dilakukan dengan mulus, karena sinyal juga nggak selalu bisa diandalkan. Tapi yang pasti suaranya selalu lebih merdu dari ayam tetangga yang berkokok tengah malam, dari suara ekor cicak yang mendecak-decak, dari suara knalpot motor pemuda kampung setempat yang keluyuran dini hari. Maka dari itu, sejak seruputan kuah tongseng pertama saya, saya selalu padanya. 

https://youtu.be/lK2kKg4ao2I

Advertisements

Di Dalam Teksmu

Aku ingin hidup di dalam teksmu, menjadi kalimat-kalimat tanpa tanda baca

menjadi debu-debu di dalam laci

menjadi langit merah di atas dermaga 

menjadi warna-warna semulajadi di lahan parkir

menjadi nasihat ibumu

menjadi ayat-ayat kitab yang senantiasa kau langgar

menjadi sobekan karcis yang kau simpan di dalam kantong

menjadi halte terakhir bus malam 

menjadi keringat kuli bangunan

menjadi buih air laut yang membasuh kakimu

menjadi barat, arahmu pulang 

Aku ingin hidup di dalam teksmu, selama kau ada. 

Beraque.

Suatu Sore di Ruang Tamu

Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari ruang tamu sore itu beradu dengan teriakan anak-anak yang sedang berebut bola di depan rumah

Ia tetap tenang, mata kecilnya tak sekalipun melirik anak-anak tersebut dari balik jendela di sampingnya

Ia hanya bisa setenang itu saat duduk di kursi kayu berukir yang didudukinya tiap sore sambil melantunkan ayat-ayat suci

Kursi itu adalah benda kesayangannya. Dibeli dari keringat seorang prajurit bergaji pas-pasan, almarhum suaminya

Semasa muda dan masih bersama, ia memang tidak pernah meminta perhiasan emas pada suaminya. Benda terbesar yang pernah ia  minta adalah satu set kursi kayu berukir untuk menghiasi ruang tamu di rumah mungil mereka

Semakin sore, tak lagi terdengar suara berisik anak-anak dari luar rumah. Pantas saja, jarum jam sudah di angka lima. Anak-anak berisik itu pasti dipanggil orangtuanya pulang ke rumah dengan ancaman ‘sudah mau maghrib, banyak setan lewat’

Namun ia masih duduk tenang di kursinya, melantunkan ayat-ayat suci dengan lirih dan suara sedikit bergetar

Tak lama setelah itu lantunannya berhenti. Ia menutup Al-Qur’an dan meletakkannya di meja. Sejenak  ia memejamkan mata sambil bersandar di kursi

Ada suara kendaraan masuk ke halaman rumah

Ternyata yang datang itu anak sulungnya. Ia sudah membiarkan pintu ruang tamu terbuka dari tadi. Lalu anak sulungnya itu masuk ke dalam ruang tamu, mengucapkan salam, mencium tangan ibunya, lantas bertanya

“Mau cerita apa bu?”

Sesaat sebelum menjawab pertanyaan anaknya, raut wajahnya tampak lega, luluh, diterpa angin yang berhembus masuk melalui pintu.

“Aku wis tuku kapling,” katanya.

Becak Penghibur Lara

Kalau bisa kembali sejenak ke masa lalu, aku ingin kembali ke tahun 1990-an. Saat aku belum disibukkan dengan memilih foto-foto untuk diunggah ke Instagram, nonton video tutorial make-up di Youtube berkali-kali, tapi tiap pakai eyeliner mata kecolok, atau berandai-andai liburan setiap tahun sambil membaca artikel-artikel di situs Condé Nast Traveler. Tahun 1990-an cukup kuisi dengan sekolah, main, mengerjakan PR Matematika sambil menangis, tanpa bergantung pada telepon pintar, internet, dan media sosial. Walaupun ada yang luput. Aku tidak merasakan suasana seram tahun 1998. Sebab, aku tinggal di pedalaman Papua yang penuh dengan friksi itu. Kadang merasa beruntung, tapi kadang itu terasa sebagai kekosongan dalam satu fase hidup kalau mendengar cerita beberapa teman-temanku yang harus sembunyi, berdiam di rumah sambil was-was, atau mengungsi ke luar negeri.

Lain hal yang membuatku kembali ke tahun 1990-an adalah wajah-wajah personil Warkop DKI. Dulu, mama sering menegur kalau aku nonton serial Warkop DKI. Katanya, itu bukan tontonan anak kecil. Tapi, gimanapun, aku tetap nonton didampingi papa. Padahal, selama mendampingiku, dia juga nggak melakukan apa-apa. Malah asik sendiri, tertawa terbaha-bahak. Entah apa yang membuatku juga menikmati tayangan itu. Kadang aku nggak ngerti maksud humor-humor yang dibicarakan. Tapi, sungguh, adegan becak kecebur empang adalah salah satu adegan yang kuingat-ingat sampai sekarang. Belakangan baru kuingat lagi judulnya Bagi-bagi Dong.

“Ayo, ayo, sekarang sampean naik semua. Tuh, turunan tuh,” kata abang becak yang hendak mengantar Dono, Kasino, dan Indro. Lalu, naiklah mereka bertiga ke becak. Duduk bertiga di bangku becak yang sempit. Tak berapa lama becak berjalan, mulailah segala bentuk keonaran. Rem becak tak berfungsi dengan baik, becak hampir menabrak pejalan kaki, menabrak penjual balon, menabrak kuli pembawa karung terigu, menabrak pembawa bambu kemudian bambu menghantam tengkuk si abang becak nan rupawan, dan berakhirlah becak dan mereka di empang nan syahdu.

Kelucuan-kelucuan macam trio Warkop DKI hampir tak pernah kutemui di layar kaca sekarang. Sekarang, kalau mau melucu, harus menyinggung bentuk fisik atau mengolok-olok trans gender, atau berkata dan bersikap kasar pada lawan main. Sepertinya ide untuk melucu meluncur bebas tanpa kendali yang penting penonton tertawa dan mau diajak teriak ‘ea…ea…ea…’

Layar kaca sekarang lebih sering menampilkan hal-hal aneh, seperti memanggil peri lewat aplikasi di telepon pintar dan televisi (BMBP Trans TV), menjadi serigala tiba-tiba (Ganteng-ganteng Serigala SCTV), merebus boneka Hello Kity (Surga yang Kedua SCTV), dan hal aneh lainnya. Anak-anak sepertinya lebih tertarik dengan Prilly Latuconsina dan Aliando daripada Doraemon.

Di masa yang penuh dengan hiruk-pikuk proyek penciptaan identitas ini, kuingin sendiri, menikmati sore sambil naik becak penghibur lara, tanpa kecebur di empang.

Luka-luka John Mayer

Entah apa yang menyebabkan John Mayer memutuskan untuk membuat lirik-lirik lagu penuh luka di album terbarunya The Search of Everything. Bulan November 2016 dia merilis Love on the Weekend sebagai single pertama dari The Search of Everything Wave One.  Bait-bait awal sepertinya dia menunjukkan perasaan bahagia yang ia rasakan setiap akhir pekan, seperti ditunjukkan pada lirik bait pertama:

It’s a Friday, we finally made it

I can’t believe I get to see your face

You’ve been working and I’ve been waiting

To pick you up and take you from this place

Lalu, semakin ke akhir lagu, bait ketiga, menunjukkan ternyata lirik-lirik bahagia pada bait sebelumnya hanya sempalan dari ingatan-ingatan bersama kekasih masa lalu

I gotta leave ya, it’s gonna hurt me

My clothes are dirty and my friends are getting worried

Down there below us, under the clouds

Baby, take my hand and pull me down, down, down, down

And I’ll be dreamin’ of the next time we can go

Into another serotonin overflow

Ditutup dengan:

I’m looking for a little love

I’m looking for a little love, oh yeah

Lirik-lirik patah hati yang bisa membuatmu melamun di dalam kendaraan saat hujan juga ada di lagu-lagu lainnya, seperti Still Fell Like Your Man dengan lirik:

Ever since the day we met, ever since the day we met
Still like the letters in your name and how they feel, babe
Still think I’m never gonna find another you
Still like to leave the party early and go home, babe
And don’t you know, babe
I’d rather sit here on my own and be alone, babe
‘Cause I still feel like your man
Still feel like your man
(I still feel like) Still feel like your man (oh honey)
Still feel like your man

Lagu-lagu menyayat hati pernah mengisi album Continuum (2006), seperti di lagu I’m Gonna Find Another You, Dreaming with a Broken Heart, Slow Dancing in a Burning Room, dan In Repair.Tampaknya ia kembali putus asa lewat lagu Helpless. Dalam lagu itu, patah hati adalah kondisi yang melekat dalam dirinya meskipun irama musik dalam lagu ini sama sekali tidak mendayu-dayu.

Entah apa yang membuatnya tetap menciptakan lirik-lirik itu. Padahal, kami sendiri yang memutuskan untuk berpisah dengan baik-baik, tanpa keterpaksaan.