Di Dalam Teksmu

Aku ingin hidup di dalam teksmu, menjadi kalimat-kalimat tanpa tanda baca

menjadi debu-debu di dalam laci

menjadi langit merah di atas dermaga 

menjadi warna-warna semulajadi di lahan parkir

menjadi nasihat ibumu

menjadi ayat-ayat kitab yang senantiasa kau langgar

menjadi sobekan karcis yang kau simpan di dalam kantong

menjadi halte terakhir bus malam 

menjadi keringat kuli bangunan

menjadi buih air laut yang membasuh kakimu

menjadi barat, arahmu pulang 

Aku ingin hidup di dalam teksmu, selama kau ada. 

Beraque.

Suatu Sore di Ruang Tamu

Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari ruang tamu sore itu beradu dengan teriakan anak-anak yang sedang berebut bola di depan rumah

Ia tetap tenang, mata kecilnya tak sekalipun melirik anak-anak tersebut dari balik jendela di sampingnya

Ia hanya bisa setenang itu saat duduk di kursi kayu berukir yang didudukinya tiap sore sambil melantunkan ayat-ayat suci

Kursi itu adalah benda kesayangannya. Dibeli dari keringat seorang prajurit bergaji pas-pasan, almarhum suaminya

Semasa muda dan masih bersama, ia memang tidak pernah meminta perhiasan emas pada suaminya. Benda terbesar yang pernah ia  minta adalah satu set kursi kayu berukir untuk menghiasi ruang tamu di rumah mungil mereka

Semakin sore, tak lagi terdengar suara berisik anak-anak dari luar rumah. Pantas saja, jarum jam sudah di angka lima. Anak-anak berisik itu pasti dipanggil orangtuanya pulang ke rumah dengan ancaman ‘sudah mau maghrib, banyak setan lewat’

Namun ia masih duduk tenang di kursinya, melantunkan ayat-ayat suci dengan lirih dan suara sedikit bergetar

Tak lama setelah itu lantunannya berhenti. Ia menutup Al-Qur’an dan meletakkannya di meja. Sejenak  ia memejamkan mata sambil bersandar di kursi

Ada suara kendaraan masuk ke halaman rumah

Ternyata yang datang itu anak sulungnya. Ia sudah membiarkan pintu ruang tamu terbuka dari tadi. Lalu anak sulungnya itu masuk ke dalam ruang tamu, mengucapkan salam, mencium tangan ibunya, lantas bertanya

“Mau cerita apa bu?”

Sesaat sebelum menjawab pertanyaan anaknya, raut wajahnya tampak lega, luluh, diterpa angin yang berhembus masuk melalui pintu.

“Aku wis tuku kapling,” katanya.

Becak Penghibur Lara

Kalau bisa kembali sejenak ke masa lalu, aku ingin kembali ke tahun 1990-an. Saat aku belum disibukkan dengan memilih foto-foto untuk diunggah ke Instagram, nonton video tutorial make-up di Youtube berkali-kali, tapi tiap pakai eyeliner mata kecolok, atau berandai-andai liburan setiap tahun sambil membaca artikel-artikel di situs Condé Nast Traveler. Tahun 1990-an cukup kuisi dengan sekolah, main, mengerjakan PR Matematika sambil menangis, tanpa bergantung pada telepon pintar, internet, dan media sosial. Walaupun ada yang luput. Aku tidak merasakan suasana seram tahun 1998. Sebab, aku tinggal di pedalaman Papua yang penuh dengan friksi itu. Kadang merasa beruntung, tapi kadang itu terasa sebagai kekosongan dalam satu fase hidup kalau mendengar cerita beberapa teman-temanku yang harus sembunyi, berdiam di rumah sambil was-was, atau mengungsi ke luar negeri.

Lain hal yang membuatku kembali ke tahun 1990-an adalah wajah-wajah personil Warkop DKI. Dulu, mama sering menegur kalau aku nonton serial Warkop DKI. Katanya, itu bukan tontonan anak kecil. Tapi, gimanapun, aku tetap nonton didampingi papa. Padahal, selama mendampingiku, dia juga nggak melakukan apa-apa. Malah asik sendiri, tertawa terbaha-bahak. Entah apa yang membuatku juga menikmati tayangan itu. Kadang aku nggak ngerti maksud humor-humor yang dibicarakan. Tapi, sungguh, adegan becak kecebur empang adalah salah satu adegan yang kuingat-ingat sampai sekarang. Belakangan baru kuingat lagi judulnya Bagi-bagi Dong.

“Ayo, ayo, sekarang sampean naik semua. Tuh, turunan tuh,” kata abang becak yang hendak mengantar Dono, Kasino, dan Indro. Lalu, naiklah mereka bertiga ke becak. Duduk bertiga di bangku becak yang sempit. Tak berapa lama becak berjalan, mulailah segala bentuk keonaran. Rem becak tak berfungsi dengan baik, becak hampir menabrak pejalan kaki, menabrak penjual balon, menabrak kuli pembawa karung terigu, menabrak pembawa bambu kemudian bambu menghantam tengkuk si abang becak nan rupawan, dan berakhirlah becak dan mereka di empang nan syahdu.

Kelucuan-kelucuan macam trio Warkop DKI hampir tak pernah kutemui di layar kaca sekarang. Sekarang, kalau mau melucu, harus menyinggung bentuk fisik atau mengolok-olok trans gender, atau berkata dan bersikap kasar pada lawan main. Sepertinya ide untuk melucu meluncur bebas tanpa kendali yang penting penonton tertawa dan mau diajak teriak ‘ea…ea…ea…’

Layar kaca sekarang lebih sering menampilkan hal-hal aneh, seperti memanggil peri lewat aplikasi di telepon pintar dan televisi (BMBP Trans TV), menjadi serigala tiba-tiba (Ganteng-ganteng Serigala SCTV), merebus boneka Hello Kity (Surga yang Kedua SCTV), dan hal aneh lainnya. Anak-anak sepertinya lebih tertarik dengan Prilly Latuconsina dan Aliando daripada Doraemon.

Di masa yang penuh dengan hiruk-pikuk proyek penciptaan identitas ini, kuingin sendiri, menikmati sore sambil naik becak penghibur lara, tanpa kecebur di empang.

Luka-luka John Mayer

Entah apa yang menyebabkan John Mayer memutuskan untuk membuat lirik-lirik lagu penuh luka di album terbarunya The Search of Everything. Bulan November 2016 dia merilis Love on the Weekend sebagai single pertama dari The Search of Everything Wave One.  Bait-bait awal sepertinya dia menunjukkan perasaan bahagia yang ia rasakan setiap akhir pekan, seperti ditunjukkan pada lirik bait pertama:

It’s a Friday, we finally made it

I can’t believe I get to see your face

You’ve been working and I’ve been waiting

To pick you up and take you from this place

Lalu, semakin ke akhir lagu, bait ketiga, menunjukkan ternyata lirik-lirik bahagia pada bait sebelumnya hanya sempalan dari ingatan-ingatan bersama kekasih masa lalu

I gotta leave ya, it’s gonna hurt me

My clothes are dirty and my friends are getting worried

Down there below us, under the clouds

Baby, take my hand and pull me down, down, down, down

And I’ll be dreamin’ of the next time we can go

Into another serotonin overflow

Ditutup dengan:

I’m looking for a little love

I’m looking for a little love, oh yeah

Lirik-lirik patah hati yang bisa membuatmu melamun di dalam kendaraan saat hujan juga ada di lagu-lagu lainnya, seperti Still Fell Like Your Man dengan lirik:

Ever since the day we met, ever since the day we met
Still like the letters in your name and how they feel, babe
Still think I’m never gonna find another you
Still like to leave the party early and go home, babe
And don’t you know, babe
I’d rather sit here on my own and be alone, babe
‘Cause I still feel like your man
Still feel like your man
(I still feel like) Still feel like your man (oh honey)
Still feel like your man

Lagu-lagu menyayat hati pernah mengisi album Continuum (2006), seperti di lagu I’m Gonna Find Another You, Dreaming with a Broken Heart, Slow Dancing in a Burning Room, dan In Repair.Tampaknya ia kembali putus asa lewat lagu Helpless. Dalam lagu itu, patah hati adalah kondisi yang melekat dalam dirinya meskipun irama musik dalam lagu ini sama sekali tidak mendayu-dayu.

Entah apa yang membuatnya tetap menciptakan lirik-lirik itu. Padahal, kami sendiri yang memutuskan untuk berpisah dengan baik-baik, tanpa keterpaksaan.

Cara Merawat Bumi

Manusia memiliki akal untuk merusak lingkungan demi memperkaya diri atau akal untuk merawat lingkungannya tanpa mengesampingkan keuntungan bagi hidupnya.

Ada semangat untuk merawat bumi di balik indahnya warna indigo dan warna-warna semulajadi pada helai kain-kain batik yang kulihat di sebuah halaman belakang rumah seorang perempuan berusia setengah abad. Aku bertemu dengan perempuan itu dua tahun lalu. Dia sudah sejak tahun 2006 memproduksi batik dengan menggunakan pewarna alami, seperti indigo, daun-daun kering, kulit jengkol, kulit buah rambutan, kayu dan akar pohon, dan lainnya. Semua proses produksi kain batik ia lakukan di halaman belakang rumahnya di Tangerang, Jawa Barat. Segala perlengkapan pembuat batik tidak menggunakan bahan kimia yang merusak lingkungan. Dia dibantu oleh tiga karyawan.

Dia bercerita padaku, bahwa pakaian-pakaian yang diproduksinya telah menarik perhatian salah satu department store hype di kalangan anak muda Ibukota. Dia menerima kerjasama untuk memasok produknya ke department store tersebut. Harganya tidak murahan. Pakaian jadi produksinya dihargai mulai dari 400.000 sampai 1.500.000 Rupiah. Proses produksi dengan bahan alami serta dikerjakan oleh tangan manusia menjadi alasan harga itu. Dia mengakui bahwa konsumennya rata-rata adalah masyarakat kelas menengah ke atas.

Tidak hanya pada pakaian atau kain batik, label alami, organik, ramah lingkungan, atau semacamnya, juga melekat pada makanan dan produk kosmetik. Produk-produk berbasis produksi rumahan dengan bahan-bahan alami, organik, ramah lingkungan, atau semacamnya itu bisa dengan mudah ditemukan di media sosial Instagram. Terkadang, beberapa di antara mereka menawarkan jasa pelatihan membuat produk-produk yang mereka jual bagi para pengikut akunnya atau pelanggannya. Misal, produsen sabun membuka kesempatan pelanggannya belajar membuat sabun dengan bahan-bahan alami. Bisa juga produsen makanan sehat membuat kelas memasak makanan sehat serta kegiatan olahraga yoga atau pilates.

Segala hal yang bersifat alami, organik, ramah lingkungan, atau semacamnya belakangan semakin digemari oleh konsumen. Apakah itu berarti konsumen memang sudah sadar akan pentingnya kelestarian lingkungan dan mengurangi pemakaian bahan-bahan kimia pada produk yang ia gunakan sehari-hari?

Produk-produk yang berlabel demikian kerap kali memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan produk yang tak berlabel itu. Dari pakaian batik tadi contohnya. Lalu, untuk sabun-sabun organik berdiameter kurang lebih 6cm dihargai 35.000-40.000 Rupiah. Restoran-restoran makanan organik juga demikian. Contohnya sebuah restotan makanan organik di Jalan Imogiri memberi harga sepiring nasi goreng kecombrang dilengkapi ikan teri dan telur 30.000 Rupiah dan jeruk nipis dengan gula batu 20.000 Rupiah. Lainnya, produsen jus di sebuah mall di Ibukota menjual sebotol jus berukuran sedang mulai dari 30.000 sampai 50.000 Rupiah.

Akhirnya hal tersebut menjadi sebuah pembenaran terhadap logika ada harga ada rupa. Mahal, karena organik, tanpa pengawet, 100 persen buatan tangan, dan sebagainya. Kita tidak pernah tahu penghitungan yang sebenarnya atau berapa untung yang diambil para produsen tersebut. Di samping itu, merawat bumi dengan menggunakan produk-produk ramah alam menjadi sebuah distingsi terhadap status sosial. Jadi, mungkin saja di dalam penghitungan produksi produk-produk itu ada penghitungan terhadap nilai tanda.

Tidak ada yang salah jika seseorang memilih merawat bumi dengan membeli produk-produk semacam itu. Toh, hak atas modal yang dimiliki orang itu sepenuhnya berada di tangannya. Persoalannya adalah apakah kita selalu sepenuhnya percaya pada label-label tersebut? Manusia memiliki akal yang bisa ia gunakan untuk melakukan negosiasi, mencari cara-cara untuk merawat bumi tanpa terus-menerus memberi pupuk dan menyirami kapitalis.